Halsel – Para Guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 157 di Desa Tawabi, Kecamatan Bacan Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, mengeluhkan soal banyaknya sampah bekas minuman keras (miras) dan kulit kelapa yang berhamburan dihalaman sekolah, sehingga menyebabkan halaman sekolah itu terlihat sangat kotor. Hal itu usai masuk sekolah di hari pertama pasca libur Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Akibatnya para guru dan siswa/siswi secara gotong royong melakukan kerja bakti untuk membersihkan sampah – sampah seperti kertas bekas miras jenis cap tikus, kulit kelapa serta lainnya yang terlihat sangat berhamburan di halaman sekolah tersebut.
Sitna M Nur salah satu guru di SDN 157 di Desa Tawabi saat dihubungi media ini pada Senin (30/03) sore tadi menceritakan mengenai aksi yang tak terpuji yang dilakukan oleh orang tidak kenal itu dan memang aksi ini sering kali terjadi ketika pihak sekolah mengliburkan anak – anak didiknya dan pada saat masuk sekolah pasti mereka mendapati sampah – sampah yang berhamburan dihalaman sekolah.
“Selama ini saya salah satu guru yang sering mendapati sampah – sampah yang berhamburan dihalaman sekolah saat masuk sekolah dihari pertama pasca libur, bahkan dulu pernah terjadi ada yang nekat membobol pintu ruangan kelas dan mereka melakukan pesta miras di dalam ruangan kelas, sebab pada saat masuk sekolah, kami melihat ada pintu ruangan kelas yang terbuka serta mendapati kertas bekas minuman keras jenis cap tikus serta sisa – sisa kuntum rokok yang berhamburan di dalam ruangan kelas,”ungkapnya.
Oleh karena itu, pihak guru minta kepada Pemerintah Desa (Pemdes) Tawabi untuk ikut bertindak, agar orang – orang tidak bertanggung jawab yang melakukan aksi tak terpuji ini tidak lagi melakukan hal serupa dikemudian hari.
“Saya tidak curiga kalau yang melakukan aksi kurang ngajar itu dari para pemuda atau siapa, karena memang tidak ada bukti saat mereka yang melakukan aksi tersebut, tetapi pada kesempatan ini saya minta kepada Pemdes Tawabi serta warga lain untuk ikut bersama – sama mengawasi sekolah, karena sekolah itu merupakan tempat belajar bagi anak – anak, kalau kondisi halaman sekolah maupun ruangan kelas yang dikotori dengan sampah maka ini akan berdampak pada rasa ketidaknyaman bagi siswa/siswi saat menerima mata pelajar dari para guru,”ujar Sitna.
Kedepan, lanjut Sitna M Nur yang merupakan alumni siswa SD Inpres Tawabi pada Angkatan Tahun 2004 Itu menegaskan jika masih terjadi seperti ini maka pihak sekolah tidak sungkan – sungkan akan membawa masalah ini ke aparat penegak hukum dengan membuat laporan polisi, biar diproses hukum, agar bisa ada efek jerah.(**)










