TERNATE – Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate memprakirakan kondisi cuaca di wilayah Maluku Utara selama periode 15–21 Oktober 2026 secara umum cerah berawan, dengan potensi hujan ringan hingga sedang di sejumlah kabupaten dan kota.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, Muhammad Dzikri Abdul Fatah, melalui siaran pers, Kamis (15/10/2026), menjelaskan bahwa fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang diprediksi aktif secara spasial di wilayah Maluku Utara tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca pada periode tersebut.
Menurutnya, kondisi cuaca turut dipengaruhi faktor lokal, termasuk pola belokan angin yang cenderung tenang serta anomali suhu muka laut yang relatif dingin. Kondisi ini mengurangi potensi pembentukan awan di sekitar wilayah Maluku Utara.
“Secara umum, kondisi cuaca di Maluku Utara selama periode 15–21 Oktober 2026 adalah cerah berawan, dengan potensi hujan ringan di beberapa wilayah,” demikian penjelasan dalam siaran pers tersebut.
BMKG menyebutkan, pada 15–16 Oktober 2026, kondisi cuaca diprakirakan berawan di seluruh wilayah Maluku Utara.
Potensi hujan ringan hingga sedang dapat terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, Pulau Taliabu, serta Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan.
Memasuki 17–18 Oktober 2026, cuaca diprakirakan masih berawan. Potensi hujan ringan diperkirakan terjadi di Pulau Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, serta Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan.
Sementara itu, pada 19–21 Oktober 2026, sebagian besar wilayah Maluku Utara diprakirakan mengalami cuaca cerah berawan. Meski demikian, hujan ringan masih berpotensi terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, dan Halmahera Selatan.
Di tengah kondisi cuaca tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang sehingga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi, sekaligus berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai dampak turunan dari fenomena meteorologi, seperti angin kencang dan petir, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang selama sepekan ke depan.
BMKG turut mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk memastikan kesiapan infrastruktur serta fasilitas umum guna mengantisipasi dampak angin kencang dan berkurangnya curah hujan.
Langkah antisipasi yang dapat dilakukan antara lain memeriksa kondisi pohon-pohon besar, papan reklame, dan atap bangunan yang berpotensi terdampak angin kencang. Pemerintah daerah dan masyarakat juga perlu memastikan ketersediaan serta pengelolaan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan selama periode curah hujan rendah.
BMKG menambahkan, rendahnya kelembapan udara relatif dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan yang dapat memicu kebakaran.
BMKG berharap para pemangku kepentingan dan seluruh komponen masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi angin kencang, kebakaran hutan dan lahan, serta dampak berkurangnya curah hujan.
Masyarakat juga diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca dan iklim yang dikeluarkan Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate sebagai langkah antisipasi terhadap potensi cuaca yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. (**)










