Situasi Malut Berangsur Normal usai Peringatan Tsunami Dicabut

Pantauan82 Dilihat

TERNATE- Situasi di Provinsi Maluku Utara mulai berangsur kondusif setelah otoritas resmi memastikan bahwa peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan pascagempa kuat pada Kamis pagi resmi berakhir.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, dalam keterangannya dari Ternate, Kamis, sebagaimana dilansir Kantor Berita ANTARA menyampaikan rasa syukur atas berakhirnya peringatan tsunami tersebut. Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali menjalankan aktivitas secara bertahap dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan.

“Puji syukur, berdasarkan informasi resmi, peringatan tsunami telah berakhir. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk kembali beraktivitas secara bertahap dengan tetap mengutamakan keselamatan,” ujar Sherly.

Kepastian ini disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) usai melakukan pemantauan intensif dan analisis data terbaru terkait aktivitas gempa tersebut.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang terjadi sekitar pukul pagi hari itu diketahui berpusat di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Bitung. Getaran kuatnya dirasakan hingga sejumlah wilayah di Maluku Utara, seperti Ternate, Tidore Kepulauan, hingga Halmahera Barat, yang sempat memicu kepanikan warga, khususnya di kawasan pesisir.

Sejak gempa terjadi, masyarakat di wilayah-wilayah tersebut secara spontan melakukan evakuasi mandiri menuju daerah yang lebih tinggi. Pemerintah daerah bersama aparat terkait pun bergerak cepat dengan mengaktifkan respons darurat, termasuk penyebaran informasi dan pengamanan jalur evakuasi.

Namun, setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap data gempa dan potensi gelombang laut, BMKG menyatakan bahwa ancaman tsunami telah mereda dan tidak lagi membahayakan. Dengan dicabutnya status peringatan dini ini, masyarakat yang sebelumnya mengungsi kini diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.

Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Potensi gempa susulan masih mungkin terjadi, sehingga kewaspadaan tetap perlu dijaga, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana.

Lebih lanjut, ia memberikan apresiasi kepada masyarakat yang dinilai sigap dan disiplin dalam mengikuti arahan pemerintah selama situasi darurat berlangsung. Menurutnya, respons cepat dan kepatuhan warga menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko korban jiwa maupun kerugian yang lebih besar.

“Ketenangan dan kedisiplinan masyarakat dalam mengikuti arahan adalah kunci. Tetap waspada, terus pantau informasi resmi, dan saling menjaga satu sama lain,” tambahnya.

Saat ini, pemerintah daerah masih terus melakukan langkah-langkah lanjutan, termasuk pendataan dampak gempa serta memastikan kondisi masyarakat terdampak. Sejumlah laporan awal menyebutkan adanya kerusakan bangunan di beberapa titik, meskipun belum ada laporan resmi terkait korban jiwa.

Selain itu, instansi terkait juga tengah berupaya memastikan layanan dasar masyarakat tetap berjalan normal, termasuk akses listrik, komunikasi, dan distribusi logistik di wilayah terdampak.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda

Di tengah kondisi yang mulai pulih, pemerintah kembali menegaskan pentingnya mengedepankan ketenangan dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat diminta untuk hanya mengacu pada sumber resmi seperti BMKG dan pemerintah daerah dalam memperoleh informasi terbaru terkait situasi kebencanaan.

Dengan berakhirnya peringatan tsunami ini, diharapkan aktivitas masyarakat di Maluku Utara dapat segera kembali normal. Namun, pesan utama yang terus digaungkan tetap sama: tetap tenang, tetap waspada, dan selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap kondisi.

Gempa bumi kuat mengguncang wilayah Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis pagi (2/4/2026), memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah, termasuk Provinsi Maluku Utara.

Peristiwa ini langsung mendapat perhatian serius dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Gede Eriksana Yasa, menjelaskan bahwa gempa terjadi pada pukul 07:48 WIT dengan magnitudo awal 7,6 sebelum kemudian dimutakhirkan menjadi 7,3. Episenter gempa berada di koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur, atau sekitar 127–129 kilometer tenggara Bitung, dengan kedalaman antara 18 hingga 62 kilometer.

“Gempa ini berpotensi menimbulkan tsunami dengan ketinggian antara 0,3 meter hingga 5 meter berdasarkan hasil pemodelan,” ujarnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *