TERNATE – Persoalan sampah plastik yang kian mengkhawatirkan di wilayah perkotaan memicu para akademisi untuk turun tangan memberikan solusi nyata.
Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun (Unkhair) sukses menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk “Sosialisasi Sadar Sampah Menjadi Rupiah” yang dipusatkan di Aula MA Alkhairaat Ternate pada Jumat, 8 Mei 2026.
Kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap volume sampah harian yang terus meningkat, sekaligus sebagai bentuk implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam hal pengabdian kepada masyarakat.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Madrasah Aliyah (MA) Alkhairaat Ternate, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan menengah dan perguruan tinggi untuk menanamkan karakter peduli lingkungan sejak dini.
Kolaborasi Pakar Ekonomi
Ketua Pelaksana Program, Abdurrahman Senuk, SE., ME, menyatakan bahwa program ini bukan sekadar sosialisasi kebersihan biasa, melainkan pendekatan dari sudut pandang ekonomi sirkular.
“Kami ingin siswa memahami bahwa dengan manajemen yang tepat, barang yang dianggap sisa atau sampah justru bisa menjadi instrumen penambah pendapatan atau nilai ekonomi,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Dalam menjalankan program ini, Abdurrahman Senuk didampingi oleh sejumlah dosen pakar ekonomi lainnya yang bertindak sebagai tim anggota, antara lain:
Fahima Nasar, SE., M.Si
Yetty, SE., ME
Drs. Firdaus Duko, SE., M.Si
M Nur Gamtohe, SE., ME
Strategi 3R dan Gerakan Anti-Plastik Sekali Pakai
Untuk memberikan wawasan praktis, panitia menghadirkan narasumber utama yang merupakan praktisi lingkungan sekaligus CEO ANKAM (Komunitas Anak Muda Sadar Sampah), Fajar Megantara, S.T.
Dalam pemaparan materinya yang berjudul “Sosialisasi Penggunaan Tumbler dan Pengurangan Sampah Plastik hingga Bernilai Ekonomi”,
Fajar membedah secara tuntas cara-cara mengubah limbah plastik menjadi produk bernilai jual.
Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah perubahan gaya hidup melalui penggunaan tumbler (botol minum isi ulang) untuk menekan angka penggunaan botol plastik kemasan di lingkungan sekolah. Fajar menjelaskan bahwa pengurangan sampah di hulu (individu) jauh lebih efektif daripada hanya fokus pada penanganan di hilir (Tempat Pembuangan Akhir).
“Sampah plastik memiliki ketahanan material yang lama. Jika dipilah dan diolah dengan kreativitas, plastik-plastik ini bisa masuk ke ekosistem industri kreatif. Inilah yang kita sebut sebagai mengubah sampah menjadi rupiah,” pungkas Fajar di hadapan ratusan siswa yang hadir.
Harapan Kedepan
Melalui kegiatan Program Kemitraan Masyarakat ini, tim dari Universitas Khairun berharap MA Alkhairaat Ternate dapat menjadi pilot project bagi sekolah-sekolah lain di Kota Ternate dalam hal pengelolaan sampah mandiri.
Selain mendapatkan ilmu pengetahuan, para peserta juga didorong untuk membentuk unit-unit kecil pengelola sampah di lingkungan sekolah yang nantinya dapat bekerjasama dengan bank sampah lokal maupun komunitas kreatif.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan penyerahan simbolis alat pendukung kebersihan kepada pihak madrasah sebagai komitmen keberlanjutan program lingkungan di masa depan.(**)










