Penulis: Zulaiha Husen1, Ririn Damayanti2
Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun, Ternate, Indonesia
Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun, Ternate, Indonesia
================================
Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku Utara.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder runtut waktu dan analisis regresi linier berganda. Hasil estimasi menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki koefisien positif sebesar 3,441, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (Sig. 0,236).
IPM memiliki koefisien positif sebesar 3,040 dan berpengaruh positif serta signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (Sig. 0,011). Pengangguran memiliki koefisien positif sebesar 0,640, tetapi tidak berpengaruh signifikan (Sig. 0,813).
Secara simultan, ketiga variabel berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dengan F hitung 5,351 dan Sig. 0,014. Nilai R Square sebesar 0,572 menunjukkan bahwa 57,2% variasi pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan oleh kemiskinan, IPM, dan pengangguran, sedangkan 42,8% dijelaskan oleh faktor lain di luar model.
Temuan utama menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia yang tercermin melalui IPM merupakan faktor yang paling dominan dalam model.
Implikasinya, kebijakan pembangunan Maluku Utara perlu memperkuat pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat, sekaligus
memperluas kesempatan kerja dan menjaga pemerataan manfaat pertumbuhan.
Katakunci: kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia, pengangguran, pertumbuhan ekonomi, Maluku Utara
PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting keberhasilan pembangunan karena berkaitan dengan peningkatan kapasitas produksi, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan output, tetapi juga untuk memperluas distribusi manfaat pembangunan, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan kesempatan kerja. Dalam konteks daerah, pertumbuhan ekonomi menjadi semakin penting karena karakteristik sumber daya, struktur ekonomi, dan kondisi sosial antarwilayah berbeda.
Provinsi Maluku Utara memiliki potensi ekonomi yang besar, antara lain pertambangan, pertanian, perikanan, perdagangan, dan jasa. Namun, pertumbuhan ekonomi daerah tidak otomatis mencerminkan perbaikan seluruh indikator kesejahteraan.
Dalam data penelitian, pertumbuhan ekonomi mengalami fluktuasi, sementara kemiskinan cenderung menurun dan IPM meningkat. Fenomena tersebut menunjukkan adanya kemungkinan hubungan yang tidak sederhana antara indikator sosial dan pertumbuhan ekonomi.
Pada periode 2019–2024, persentase penduduk miskin dalam data penelitian bergerak dari 6,91% pada 2019 menjadi 6,97% pada 2020, kemudian turun menjadi 6,38% pada 2021, 6,37% pada 2022, sedikit meningkat menjadi 6,46% pada 2023, dan kembali turun menjadi 6,03% pada 2024. Pada saat yang sama, IPM meningkat secara konsisten dari 68,71 pada 2019 menjadi 71,84 pada 2024.
Penelitian juga mencatat bahwa perubahan indikator sosial tersebut tidak selalu bergerak searah dengan pertumbuhan
ekonomi.
Secara teoritis, kemiskinan dapat membatasi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, memperoleh pendidikan dan kesehatan, serta meningkatkan produktivitas. Pengangguran juga dapat menekan pendapatan dan pemanfaatan tenaga kerja.
Sebaliknya, pembangunan manusia yang lebih baik dapat meningkatkan produktivitas melalui pendidikan, kesehatan, dan standar hidup yang lebih baik. Karena itu, pengujian empiris diperlukan untuk mengetahui apakah hubungan teoritis tersebut terbukti pada konteks Maluku Utara.
Penelitian terdahulu yang dirangkum dalam naskah menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa studi menemukan hubungan signifikan antara pengangguran dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan penelitian lain menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Perbedaan temuan tersebut memperlihatkan adanya research gap terkait karakteristik wilayah dan struktur ekonomi. Penelitian ini menempatkan kemiskinan,
IPM, dan pengangguran secara bersama-sama sebagai variabel penjelas pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara, sehingga diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang lebih spesifik bagi kebijakan pembangunan daerah.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kemiskinan, IPM, dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku Utara, baik secara parsial maupun simultan.
Berdasarkan kerangka penelitian, hipotesis yang diuji adalah bahwa kemiskinan, IPM, dan pengangguran berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, serta ketiganya secara bersama-sama berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian eksplanatori untuk menguji hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.
Lokasi penelitian adalah Provinsi Maluku Utara yang mencakup kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. Data yang digunakan merupakan data sekunder runtut waktu sebagaimana dijelaskan dalam naskah penelitian, dengan sumber utama Badan Pusat Statistik serta literatur dan penelitian terdahulu yang relevan.
Variabel dependen adalah pertumbuhan ekonomi (Y), sedangkan variabel independen terdiri atas kemiskinan (X1), Indeks Pembangunan Manusia (X2), dan pengangguran (X3). Pertumbuhan ekonomi diproksi melalui perubahan output ekonomi sebagaimana definisi operasional dalam naskah.
Kemiskinan menggunakan persentase penduduk miskin berdasarkan garis kemiskinan BPS. IPM digunakan sebagai ukuran kualitas pembangunan manusia, sedangkan pengangguran menggunakan indikator tingkat pengangguran.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah secara kuantitatif menggunakan analisis regresi linier berganda. Model penelitian dirumuskan sebagai Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + e.
Sebelum interpretasi hasil regresi, penelitian menggunakan pengujian statistik untuk menilai pengaruh parsial melalui uji t, pengaruh simultan melalui uji F, dan kemampuan model menjelaskan variasi variabel dependen melalui koefisien determinasi (R²). Pengolahan data dalam naskah menggunakan SPSS 30.
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap pertumbuhan ekonomi. Uji F digunakan untuk mengetahui apakah kemiskinan, IPM, dan pengangguran secara bersama-sama berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui proporsi variasi pertumbuhan ekonomi yang dapat dijelaskan oleh seluruh variabel independen dalam model.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Variabel Penelitian
Data penelitian menunjukkan adanya dinamika yang berbeda antara pertumbuhan ekonomi dan indikator sosial. Kemiskinan cenderung menurun setelah peningkatan pada 2020, sedangkan IPM meningkat secara konsisten.
Kondisi ini memberikan indikasi awal bahwa perubahan kesejahteraan sosial tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.
Perkembangan IPM menjadi temuan penting. Nilai IPM meningkat dari 68,71 pada 2019 menjadi 71,84 pada 2024. Peningkatan tersebut mencerminkan perbaikan pada dimensi pembangunan manusia sebagaimana indikator pendidikan, kesehatan, dan standar hidup.
Namun, penelitian juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu meningkat ketika IPM meningkat. Oleh sebab itu, hubungan tersebut perlu diuji melalui model regresi.
Hasil Regresi Linier Berganda
Hasil estimasi regresi menghasilkan persamaan berikut:
Y = −221,369 + 3,441X1 + 3,040X2 + 0,640X3 + e
Variabel
B
Std. Error
Beta
t
Sig.
Konstanta
−221,369
88,583
—
−2,499
0,028
Kemiskinan (X1)
3,441
2,756
0,449
1,249
0,236
IPM (X2)
3,040
1,015
1,131
2,995
0,011
Pengangguran (X3)
0,640
2,651
0,056
0,241
0,813
z
Tabel 1. Hasil regresi linier berganda. Sumber: Diolah menggunakan SPSS 30.
Koefisien kemiskinan sebesar 3,441 menunjukkan arah hubungan positif, tetapi nilai signifikansi 0,236 lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, kemiskinan tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam model.
Hasil ini menunjukkan bahwa perubahan tingkat kemiskinan selama periode penelitian belum mampu menjelaskan perubahan pertumbuhan ekonomi secara statistik. Temuan tersebut tidak berarti bahwa pengurangan kemiskinan tidak penting bagi pembangunan, tetapi menunjukkan bahwa pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi dalam model ini tidak terbukti signifikan.
IPM memiliki koefisien sebesar 3,040 dengan signifikansi 0,011. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, IPM berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Temuan ini mendukung argumentasi bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan standar hidup dapat meningkatkan produktivitas dan kemampuan masyarakat dalam kegiatan ekonomi. Dalam model ini, IPM juga menjadi variabel yang paling dominan dibandingkan variabel lainnya.
Pengangguran memiliki koefisien sebesar 0,640 dengan nilai signifikansi 0,813. Karena nilai tersebut jauh di atas 0,05, pengangguran tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil ini dapat dipahami dalam konteks karakteristik perekonomian daerah yang masih memiliki aktivitas sektor informal. Dengan demikian, perubahan tingkat pengangguran terbuka belum tentu langsung mencerminkan perubahan total pemanfaatan tenaga kerja dan output ekonomi.
Secara teoritis, hasil IPM yang signifikan memperkuat pandangan bahwa kualitas manusia merupakan bagian penting dari proses pembangunan.
Sementara itu, hasil kemiskinan dan pengangguran yang tidak signifikan menunjukkan bahwa hubungan indikator sosial dengan pertumbuhan ekonomi bersifat kontekstual.
Struktur sektor ekonomi, produktivitas, kualitas pekerjaan, distribusi aktivitas ekonomi, dan faktor lain di luar model dapat memengaruhi kekuatan hubungan tersebut.
Temuan penelitian ini juga memiliki implikasi praktis. Pemerintah daerah perlu mempertahankan dan memperluas investasi pada pendidikan dan kesehatan karena peningkatan IPM terbukti berkaitan positif dengan pertumbuhan ekonomi dalam model.
Pada saat yang sama, kebijakan pengurangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja tetap diperlukan agar pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang lebih merata. Pengembangan UMKM, pertanian, perikanan, pariwisata, dan industri yang memiliki daya serap tenaga kerja dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.
Penelitian memiliki keterbatasan pada cakupan variabel yang digunakan. Nilai R² menunjukkan masih terdapat variasi pertumbuhan ekonomi yang berasal dari faktor lain di luar model.
Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan investasi, inflasi, pengeluaran pemerintah, perkembangan sektor industri, konsumsi masyarakat, teknologi, dan faktor makroekonomi lainnya apabila tersedia data yang memadai.
Uji Koefisien Determinasi dan Uji Simultan
Hasil Model Summary menunjukkan R = 0,756, R Square = 0,572, Adjusted R Square = 0,465, dan Std. Error of the Estimate sebesar 6,05940. Nilai R Square sebesar 0,572 berarti 57,2% variasi pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan oleh kemiskinan, IPM, dan pengangguran, sedangkan 42,8% sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model.
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error
1
0,756
0,572
0,465
6,05940
Tabel 2. Koefisien determinasi. Sumber: Diolah menggunakan SPSS 30.
Uji F menghasilkan F hitung sebesar 5,351 dengan signifikansi 0,014. Karena 0,014 < 0,05, kemiskinan, IPM, dan pengangguran secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa meskipun dua variabel tidak signifikan secara parsial, kombinasi ketiga variabel secara bersama-sama tetap memiliki kemampuan penjelas yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Regression
589,393
3
196,464
5,351
0,014
Residual
440,596
12
36,716
—
—
Total
1029,989
15
—
—
—
Tabel 3. Uji simultan (F). Sumber: Diolah menggunakan SPSS 30.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa kemiskinan, IPM, dan pengangguran secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku Utara. Secara parsial, kemiskinan tidak berpengaruh signifikan, IPM berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan pengangguran tidak berpengaruh signifikan. Nilai R Square sebesar 57,2% menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan lebih dari setengah variasi pertumbuhan ekonomi, sementara 42,8% dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Dengan demikian, kualitas sumber daya manusia yang tercermin dalam IPM merupakan faktor yang paling menonjol dalam penelitian ini. Pemerintah daerah perlu memperkuat pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperluas kesempatan kerja dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan penghargaan kepada pihak-pihak yang telah mendukung penyediaan data dan proses penyusunan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Baeti, N. (2013). Pengaruh pengangguran, pertumbuhan ekonomi, dan pengeluaran pemerintah terhadap pembangunan manusia kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007–2011.
Chambers, R. (1983). Rural development: Putting the last first. Longman.
Dien Arianti, D. (2019). Pengaruh pengangguran dan inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tulungagung.
Jhingan, M. L. (2010). Ekonomi pembangunan dan perencanaan.
Khusaini. (2007). Pembentukan modal manusia dan pembangunan ekonomi.
Kuncoro, M. (1997). Ekonomi pembangunan: Teori, masalah, dan kebijakan.
Kuncoro, M. (2003). Metode riset untuk bisnis dan ekonomi.
Mankiw, N. G. (2006). Pengantar ekonomi makro.
Naing, A. (2018). Analisis pengaruh ketimpangan pembangunan dan ketimpangan pendapatan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku Utara.
Nora, S. (n.d.). Pengaruh ketimpangan pendapatan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia (periode 1981–2014).
Prasetyoningrum, A. K., & Sukmawati, U. S. (2018). Analisis pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi, dan pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia.
Sukirno, S. (1983). Pengantar teori ekonomi pembangunan.
Sukirno, S. (1994). Pengantar teori ekonomi makro.
Suryawati, C. (2004). Memahami kemiskinan secara multidimensional.
Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2006). Pembangunan ekonomi. (**)










