Kembali ke Jalan Pergerakan

Opini108 Dilihat

Catatan: Abdul Fatah, S.Sos, M.Si
Mantan Pengurus PMII Cabang Kota Makassar
==============================

Dua puluh empat tahun bukan waktu yang singkat. Ia cukup panjang untuk mengubah banyak hal—wajah kota, hingga perjalanan hidup seseorang.

Namun bagi sebagian orang, jejak organisasi dan semangat pergerakan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertidur, menunggu momentum untuk kembali dipanggil.

Begitulah perjalanan seorang kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang pernah tumbuh dan ditempa di Kota Makassar pada akhir 1990-an.

Di kota “Daeng” itulah proses kaderisasi Saya dimulai, dari mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), hingga Pelatihan Kader Dasar (PKD) bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kota Makassar.

Masa itu menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Dinamika gerakan mahasiswa pasca reformasi masih begitu terasa. Diskusi, dialektika, dan perdebatan ideologi menjadi makanan sehari-hari kader-kader muda yang percaya bahwa perubahan harus diperjuangkan.

Puncaknya terjadi pada 17 hingga 23 November 2000, berkesempatan hadir bersama sahabat-sahabat dipimpin Ketua Faisal Amir serta sahabat senior asal Malut, Hasanuddin Fokatea.

Kala itu, Hasanuddin Fokatea merupakan Ketua HMPS Sula Kota Makassar, dengan berbagai pengalaman dan percaya diri, anak Kepulauan Sula ini memimpin sidang penuh dinamika di Kongres XIII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia digelar di Asrama Haji Medan, Sumatera Utara.

Forum besar itu melahirkan banyak keputusan penting, termasuk terpilihnya Nusron Wahid sebagai Ketua Umum PB PMII periode 2000–2003. Nusron Wahid merupakan seorang politisi Partai Golkar, kini menjabat Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan RI.

Namun hidup selalu membawa orang pada jalannya masing-masing.

Pada pertengahan 2002, harus kembali ke kampung halaman di Ternate meninggalkan seluruh aktivitas kemahasiswaan. Sebuah babak baru dimulai.

Aktivitas organisasi perlahan ditinggalkan. Kesibukan hidup, pekerjaan, dan tanggung jawab lain membuat dunia pergerakan seolah tinggal kenangan di Kota Makassar.

Tetapi ternyata, pergerakan tidak pernah benar-benar selesai.

Dua dekade lebih berlalu, semangat itu kembali dipanggil pulang. Kali ini melalui rumah besar bernama Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Maluku Utara di bawah kepemimpinan sang legislator, Muhajirin Bailussy.

Muhajirin Bailussy selain dikenal sebagai anggota parlemen empat periode dan sempat menjadi Ketua DPRD Kota Ternate pada 2019-2024.

Ketua PKB Kota Ternate ini memiliki “Chemistry” yang sama, selain dikenal fans Timnas Argentina, juga pecinta sepakbola dengan menggelar turnamen Mini Soccer antar organisasi sebelum pengurus IKA-PMII Malut dikukuhkan.

Sebuah ruang pengabdian baru, tempat idealisme lama dipertemukan dengan pengalaman hidup yang matang.

Momentum itu terasa kuat ketika menghadiri agenda Pelantikan dan Dialog PC Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Halmahera Utara di Tobelo, Sabtu (23/5/2026).

Dalam forum itu, Wakil Bupati, Kasman Hi Ahmad menitipkan tiga pesan penting kepada pengurus IKA PMII Halut.

Pertama, menjadikan IKA PMII sebagai rumah silaturahmi bagi seluruh alumni PMII tanpa memandang latar belakang kampus maupun angkatan.

Kedua, menjadikan IKA PMII sebagai jembatan pengabdian bagi masyarakat melalui kontribusi ilmu pengetahuan, pengalaman dan sumber daya yang dimiliki para alumni.

Ketiga, menjadikan IKA PMII sebagai rumah gerakan perubahan yang mampu mengidentifikasi potensi, persoalan dan solusi pembangunan di Halmahera Utara.

“IKA PMII harus mampu menjadi bagian dari gerakan perubahan sosial dan pembangunan daerah di Halmahera Utara,” ujar Kace begitu disapa.

Kasman yang juga mantan Rektor UMMU Maluku Utara mengingatkan, pemimpin yang menutup telinga hanya akan melahirkan kebijakan rapuh dan jauh dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, ruang publik harus tetap menjadi arena terbuka bagi kritik, koreksi, dan evaluasi.

Pesan-pesan dan masukan juga disampaikan Majelis Pembina PW IKA PMII Maluku Utara, DR. Abubakar Abdullah, terdengar bukan sekadar pidato seremonial, melainkan pengingat keras tentang makna kepemimpinan.

Ruang politik dan birokrasi bukan tempat bagi mereka yang mudah tersinggung atau anti terhadap kritik. Jabatan publik, kata Kadis Pendidikan Maluku Utara itu, harus siap diuji oleh suara rakyat.

“Kritik terhadap jabatan hal yang lumrah. Jangan sedikit-sedikit baper. Kritik justru menjadi suplemen untuk memperbaiki kebijakan agar lebih tajam dan benar-benar menyentuh kepentingan rakyat,” tegasnya di hadapan alumni dan kader pergerakan se-Halmahera Utara.

Pesan itu menggema kuat di tengah situasi demokrasi yang sering kali memperlihatkan pemimpin alergi terhadap kritik. Bagi Haji Aka, sapaannya, kritik bukan ancaman, melainkan vitamin bagi pemerintahan yang sehat.

Sedangkan, Ketua Wilayah IKA PMII Maluku Utara, Muhajirin Bailussy, turut memberi wejangan kepada para sahabat IKA PMII Halmahera Utara agar terus menjaga semangat pengabdian dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Bagi sebagian orang, organisasi mungkin hanya bagian dari masa muda. Tetapi bagi kader pergerakan, organisasi adalah sekolah kehidupan. Tempat belajar tentang keberanian, loyalitas, dan pengabdian.

Dan setelah 24 tahun berlalu, jalan itu ternyata masih sama: kembali mengabdi untuk kemaslahatan bersama IKA-PMII Maluku Utara.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *