Penulis:Nurhalisa Wahab, Ida Hidayanti, Ririn Damayanti
Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Khairun, Ternate
===============================
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh citra merek dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian maskara Maybelline pada mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 90 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan bantuan IBM SPSS Statistics 23 melalui uji validitas, reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra merek tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Sebaliknya, kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Secara simultan, citra merek dan kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 66,3%. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas produk merupakan faktor utama yang memengaruhi keputusan pembelian, sedangkan citra merek berfungsi sebagai faktor pendukung dalam membangun persepsi positif konsumen.
Kata kunci: citra merek, kualitas produk, keputusan pembelian, Maybelline.
Pendahuluan
Persaingan industri kosmetik semakin ketat seiring perkembangan teknologi digital dan perubahan gaya hidup masyarakat. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas produk serta reputasi merek sebelum memutuskan pembelian. Kondisi tersebut menuntut perusahaan untuk mampu menghadirkan produk berkualitas sekaligus membangun citra merek yang kuat agar tetap kompetitif.
Maybelline merupakan salah satu merek kosmetik internasional yang memiliki pangsa pasar besar di Indonesia. Produk maskara Maybelline, khususnya Volume Express Hypercurl, dikenal luas karena mampu memberikan efek lentik, tebal, dan tahan air sehingga sesuai dengan karakteristik bulu mata perempuan Asia.
Meskipun Maybelline secara konsisten menduduki posisi teratas dalam kategori maskara berdasarkan Top Brand Index, persaingan industri kosmetik menyebabkan perusahaan tetap harus mempertahankan kualitas produk dan citra mereknya.
Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh citra merek dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian maskara Maybelline pada mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun yang pernah menggunakan maskara Maybelline. Sampel penelitian berjumlah 90 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling.
Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert, sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dan studi pustaka.
Analisis data dilakukan menggunakan IBM SPSS Statistics 23 yang meliputi uji validitas, reliabilitas, uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, analisis regresi linear berganda, uji parsial (t), uji simultan (F), dan koefisien determinasi (R²).
Hasil Penelitian
Seluruh instrumen penelitian dinyatakan valid karena memiliki nilai korelasi di atas nilai r tabel. Hasil uji reliabilitas juga menunjukkan seluruh variabel memiliki nilai Cronbach’s Alpha di atas 0,60 sehingga dinyatakan reliabel.
Pengujian asumsi klasik menunjukkan data berdistribusi normal, tidak terjadi multikolinearitas karena nilai tolerance lebih dari 0,10 dan VIF kurang dari 10, serta tidak ditemukan gejala heteroskedastisitas.
Hasil analisis regresi menghasilkan persamaan:
Y = 4,739 + 0,028X₁ + 0,753X₂ + e
Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,663 menunjukkan bahwa citra merek dan kualitas produk mampu menjelaskan 66,3% variasi keputusan pembelian, sedangkan 33,7% dipengaruhi faktor lain di luar penelitian.
Secara parsial, citra merek memperoleh nilai signifikansi 0,809 dengan nilai t hitung 0,243, sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Sebaliknya, kualitas produk memperoleh nilai signifikansi 0,000 dengan nilai t hitung 6,096, yang menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Secara simultan, hasil uji F menunjukkan nilai F hitung sebesar 143,406 dengan signifikansi 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa citra merek dan kualitas produk secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra merek belum menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian maskara Maybelline. Mahasiswi sebagai konsumen lebih mempertimbangkan manfaat nyata yang diperoleh dari produk dibandingkan reputasi merek. Temuan ini mengindikasikan bahwa konsumen kosmetik semakin rasional dalam memilih produk sesuai kebutuhan.
Sebaliknya, kualitas produk menjadi faktor yang paling menentukan keputusan pembelian. Konsumen menilai aspek seperti daya tahan, keamanan, efektivitas, dan kenyamanan penggunaan sebagai pertimbangan utama sebelum membeli maskara. Produk yang mampu memenuhi harapan konsumen akan lebih mudah memperoleh kepercayaan dan meningkatkan minat pembelian ulang.
Meskipun citra merek tidak berpengaruh secara parsial, hasil uji simultan menunjukkan bahwa citra merek tetap memiliki peran ketika dipadukan dengan kualitas produk. Citra merek yang positif mampu memperkuat persepsi konsumen terhadap kualitas produk sehingga meningkatkan keyakinan dalam mengambil keputusan pembelian.
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa:
Citra merek tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian maskara Maybelline pada mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun.
Kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Citra merek dan kualitas produk secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian dengan kontribusi sebesar 66,3%.
Saran
Maybelline disarankan untuk terus meningkatkan kualitas produk melalui inovasi formula, penggunaan bahan yang aman, serta menjaga konsistensi performa produk agar tetap memenuhi kebutuhan konsumen. Selain itu, perusahaan perlu memperkuat strategi komunikasi pemasaran melalui media digital, influencer, dan komunitas kecantikan untuk membangun citra merek yang lebih kuat dan meningkatkan loyalitas pelanggan.
Penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan variabel lain seperti harga, promosi, kepercayaan merek, pengalaman pelanggan, atau gaya hidup sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian produk kosmetik. (**)










